Dulu, aku jarang bisa memahami mengapa seseorang bisa berubah jadi sangat menyedihkan ketika berbicara perihal hati, mungkin karena dulu aku tak benar benar serius dengan drama picisan anak umur belasan. Atau kini saat tahu cara mencintai dalam diam ala-ala aktivis X, belum lagi stalking IG dari dan secret admirer efek si cewe ataupun cowo upload foto kece. Karena yang harusnya ngejaga bukan cewe doang kan ya? Dikira ga apa kali kalo cowo juga upload foto ala ala, belum lagi kalo yang dilike juga kebanyakan foto ala ala tadi. Beuh, menyedihkan.
Aku gak paham.
Kata Plato, Everyone is fighting a hard battle that we know nothing about. Hidup ini keras, cenderung kejam. Setiap kita perlu memahami bahwa kesedihan setiap kita berada pada standar yang berbeda. Pun jika sama, yang membedakannya adalah bagaimana respon kita terhadap apa yang terjadi. That’s why terkadang ada orang yang berubah karena masalah yang ia hadapi tak mampu direspon dengan baik oleh hati dan pikiran.
Maka disitulah aku sekarang ini, sisa perjalanan kemarin yang belum benar benar berakhir, ritual sebelum istirahatpun tidak berhasil, memaafkan diri sendiri belum selesai.
Pada titik ini, mencoba menelaah setiap fase yang sudah terlewati, berusaha keras mencari hikmahnya, sembari bertanya sana sini sambil memastikan sedih sedang aman di tempatnya, tidak muncul di depan umum.
Padahal kau tau, tempat berpulang terbaik segala emosi, termasuk sedih, adalah Allah. Dan lihatlah, janji-Nya untuk selalu ada dan mendengar racauan tidak jelas hamba yang tadi sok-sokan bisa menghadapi sendiri ini. Ia selalu ada disana, dalam jarak yang lebih dekat dari urat nadi.
Maka yang seharusnya manusia lakukan adalah meletakkan semuanya. Meletakkan segala perangkat perasaan hati pada pemilik-Nya. Selesaikanlah dengan dirimu terlebih dahulu. Kemudian, baru selesaikan dengan yang lain. Cobalah beri kepercayaan bulat pada Allah, bahwa ia sebagai Dzat Yang Membolak Balik Hati akan menyelesaikan urusan-urusan ini. Tuntas.
Ada hal yang aku belum tahu sedang dipersiapkan-Nya. Tugasku selanjutnya sebenarnya mudah saja, melanjutkan perjalanan. Sedih biar aman berada di tempatnya. Tanpa perlu harus kuperhatikan dalam-dalam, lamat lamat.
Aku telah menyerahkannya pada Sebaik-Baik Wakil.
‘ala kulli hal, Alhamdulillah

