CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Kamis, 28 Juli 2011

pemakaman hijau

Suatu hari di pemakaman hijau itu. Gadis 9 tahun bertubuh bongsor menatap haru pemakaman seorang rekan bisnis ibunya yang telah meninggal.
“Ma, kenapa semua orang pada menangis? Bukankah semua orang yang hidup itu akan mati?”. Tampak raut kecewa Kikan seolah membisikkan kepada pohon-pohon yang ada di pemakaman sendu itu.

“Apa yang terjadi pada mamaku? Ah,nyebelin. Mama gak menjawab pertanyaan ku”.

Senja pun menjemput kesedihan ibu Kikan sehingga Kikan pun dapat melahap santapan malam dari ibunda tercinta.
<>
“Kikan sayang... biasakan cuci piringmu setelah makan ya, mama ada perlu dengan tetangga sebentar.” Muncul ide Kikan untuk menghidupkan TV di saat ia diperintahkan untuk belajar. Kikan tertegun haru melihat berita yang marak belakangan ini di TV, untuk menghilangkan rasa penasarannya ia pun melemparkan pertanyaan pada ibunya selepas ibunya balik dari rumah Bu Susi, ibu tetangga yang sangat ramah di mata Kikan.
<!--more-->
“Ma, ada tidak keluarga kita yang terserang penyakit mematikan? Tadi aku melihat TV, katanya sekarang sudah ada penyakit-penyakit yang membingungkan, bahkan mematikan!”
“Ah, kamu ini Kikan, mama kan sudah bilang. Kita ini keluarga yang istimewa, jadi tidak mungkin penyakit-penyakit datang menghampiri kita, ya sudahlah, pergi cuci tangan sana! Jangan lupa pakai sabun ya..! lagipula kamu tadi menghidupkan TV kan! Kikaaannn !!!!”

“hehehe. Sorry Ma,, abis Kikan bosan sih”
Kicau-kicau burung pun seolah mengiringi sambutan pagi ayam yang dimiliki keluarga Kikan. Kikan berangkat ke sekolah seperti biasanya, kebiasaan telat merupakan lekatan yang tak bisa hilang dari tubuh Kikan sekarang, berbagai langkah ditempuh ibu, tapi hanya sia-sia.
Kikan dan ibu bagai dekatnya sepasang sahabat sejati yang saling melengkapi. Walau Kikan hanya seorang gadis tanpa ayah, tapi ibunya bisa menjadi keduanya, bahkan memakai kemeja dan celana merupakan salah satu cara ibunya untuk meyakinkan Kikan bahwa ibu dan ayah tidak ada bedanya, bahkan ibu Kikan telah menerapkan saran Bu Liana seorang hair stylist yang menyarankan rambut yang cocok untuk pria dan wanita. Kadang-kadang hal ini membuatnya tersenyum sendiri.
Kikan adalah seorang anak hasil hubungan di luar nikah, ayah kandungnya tidak sempat menikahi ibunya karna tidak adanya persetujuan dari sebelah pihak. Sampai sekarang Kikan hanya tahu Ayahnya adalah seorang malaikat besar yang ada di sekitarnya.
Terdapat sosok mesterius Kikan yang hanya ibunya mengerti bahkan Kikan pun sebenarnya tidak mengerti, tetapi Kikan tetap menganggap semua benar. Karena Kikan percaya bahwa ibunya adalah Peri yang dikirim oleh malaikat besar untuknya.
“Kikan, ibu punya rahasia, kamu jangan bilang siapa-siapa ya. Ibu adalh peri yang dikirimkan oleh malaikat besar untuk menjagamu, karna kamu adalah malaikat kecil yang sangat dicintai oleh siapapun, tapi kamu jangan bilang siapa-siapa ya. Seorang malaikat kecil akan mengeluarkan darah dari hidungnya, dan kamu jangan takut itu bukanlah darah, tapi mutiara, dan jangan sampai ada yang menyentuh darahmu apalagi menerima sapu tangan dari orang lain, karna kalau itu terjadi kekuatan mu akan hilang dan orang jahat akan mengambil kekuatan itu untuk perbuatan yang buruk.” Itu adalah kata kata yang tidak bisa dilupakan oleh Kikan yang dilontarkan oleh ibunya yang dianggap peri.
Sepulang sekolah, sudah menjadi kebiasaan mengajari teman temannya matematika di lapangan basket dekat rumah gadis bongsor itu, Kikan memang siswa matematika yang sangat pintar, bahkan ia mampu mengalahkan siswa kelas 6.
“Lho, Kikan kamu mau kemana?” tanya Vera, sahabat terdekatnya yang penasaran melihat Kikan menghampiri sesosok pria ber jas yang breokan sedang memantul-mantulkan bola sambil menatap kearah Kikan.
Keseimbangan Kikan menjadi tak terkontrol saat melihat mata pria tersebut yang membuat airmatanya tiba tiba mengalir, BBRRUUKK. Kikan pun terjatuh tepat di sepatu kulit pria tersebut.
“Kamu berdarah, sini biar saya bersihkan” pria tersebut mengeluarkan kata pertamanya.
Kikan terdiam, ia pikir sosok itu adalah malaikat besar yang ia rindukan, tapi Kikan mulai curiga kalau pria tersebut adalah setan yang berusaha mengecohnya untuk menghilangkan kekuatan malaikat kecil dengan mengambil darah yang dianggapnya mutiara itu. Kikan ketakutan.
Genggaman tangan pun mengangkat Kikan ke arah belakang punggung ibu,
“oh, ibu. Ternyata ibu yang menolongku. Kerjamu bagus bu, aku akan melapor pada malaikat besar bahwa peri ini adalah yang terbaik.”
Ibu hanya melontarkan senyum.
“mengapa kau kembali?” kata kata ibu bagai cipratan ludah yang ditujukan kepada pria breokan itu.
“aku hanya ingin melihatnya. Ternyata kau pintar juga merawatnya. Aku akan tinggal di sini untuk sementara, aku hanya ingin menghabiskan waktuku sedikit lagi hanya untuk Kikan.”
Air mata keluar dari Pria Breokan dan Peri terbaik kikan. Malaikat Kecil itu pun tertegun...
Malam yang dingin menyambut kehangatan yang dirasakan oleh Kikan karena ada sesosok pria dewasa bak seorang ayah yang tampan menumpang di rumahnya. Rasa penasaran akan siapa sosok pria tersebut membuat Kikan berperang melawan kantuk dan ia pun pulas.
“Berapa hari lagi kau ada di rumah ini?” Sang ibu malaikat kecil pun memulai pembicaraan.
“hhheehh, aku kan sudah bilang aku akan menghabiskan umurku disini” balas Pria tersebut.
“Bagaimana jika keluargamu mengetahui kamu ada di sini? Hheehh, mungkin Ibumu akan menyeretmu seperti waktu hendak meminangku, tapi kau tinggalkan anakmu yang sama denganmu.”
Suasana semakin tidak terkontrol, pertengkaran halus pun terjadi, sepasang orangtua ini akan membuat malu Kikan si malaikat kecil jika ia terbangun.
Esok paginya. “Ma,sebenarnya pria itu siapa?” tanya Kikan di meja sarapan yang penasaran dimana sang pria itu berada sekarang.
“Dia adalah malaikat be... emm maksud mama dia adalah peri juga, tapi dia lagi berlibur!, huh jam sekarang dia masih tidur, Kikan tolong bangunkan dia ya, dia ada dikamar tengah” sahut mama.
Kikan pun berlari tidak sabaran hendak melihat sosok pria tampan yang diimpi impikan menjadi ayahnya itu. Pelan-pelan pintu dibuka, membuka selimut dan......
“MMAAAA..........” teriak Kikan dari dalam kamar
Ibu berlari menghampiri Kikan dan Pria Breokan itu, seolah sudah bisa menebak apa yang akan terjadi. Pria yang sebenarnya ayah kandung Kikan itu mengeluarkan banyak darah dari hidung dan mulut sehingga membasahi kasur pinjaman yang empuk itu, nafas pria itu terhenti. Ibu menangis sejadi jadinya, begitu juga Kikan.
Hari berganti hari, kenangan sang pria tampan selalu terbayang di bayangan Kikan, terkadang ia pun heran mengapa.
Sepulang Kikan dari sekolah, seolah bayangan sang ayah impian memperlambat gerakan tapak Kikan.
“Jeng, Mas guanteng itu ternyata mati karna AIDS lo jeng”
“Ia, saya juga tau atuh, tapi gak membahayakan apa? Kemarin kan dia tinggal di rumah Bu Lusi. Huh, padahal di rumahnya kan ada Kikan yang masih kecil, dasar janda teledor”
Perlahan dan perlahan, darah sang malaikat kecil pun jatuh bagaikan pengganti air mata di sudut pipi Kikan. Bisikan antar telinga ibu-ibu tetangga itu pun membuat Kikan terdiam di tengah jalan. Pikirannya hampa.
“AIDS ? apa itu?”
Suara dercitan rem motor pun membuat ibu-ibu tetangga tersebut tersadar akan keberadaan Kikan di dekat mereka, hampir saja motor itu menabrak sang malaikat kecil. Darah tetap saja mengalir, ia tetap bisu.
“wah jeng, gawat! Kikan berdarah, si pria breokan itu... jangan-jangan”
Bisik salah satu ibu
“ia nih jeng, mampus kita kalau tertular, sepertinya Kikan sudah jadi korban pertama”
Issue ini bagaikan angin yang menyebar kemana-mana, secepat kilat Kikan dijauhi oleh masyarakat, bahkan teman terdekatnya pun lebih mempercayai ibu-ibu mereka yang menyuruh untuk menjauhi Kikan.
“Ma, sebenarnya kenapa tidak ada yang mau berteman denganku lagi?....” Kikan bertanya polos.
“eehh,,itu karna, mereka sudah tau kalauu...”
“Kalau apa ma?” Kikan menggenggam sapu tangan khususnya seolah tidak sanggup mendengar jawaban ibu.
“Mereka tau kalau kamu adalah malaikat kecil, mereka iri padamu, karna kau punya kekuatan nak, semua orang akan mencintaimu, mama janji, mama sebagai peri yang diutus malaikat besarmu akan terus menjagamu” Mama berlinang.
“tapiii,, AIDS itu apa ma? Kenapa aku terkena AIDS, apa itu? Si Pria Tampan itu mati karna AIDS, apa aku juga akan mati?” tanya Kikan penasaran
Mama tersentak, hatinya pilu bagai diiris belati tertajam yang ada, tak ada keberanian untuk menatap mata anak yang polos itu, air matanya jatuh bagai tak akan berhenti, hilang kemampuannya untuk merangkai kata bujukan yang sering ia lontarkan ke Kikan. Kikan kebingungan, Ibu beranjak begitu saja tanpa menjawab apapun.
Arisan pun memulai kegiatan Ibu di siang hari, banyak topik yang di bicarakan, tapi ada satu topik yang tiba-tiba dilontarkan. Kikan, lagi-lagi masalah Kikan. Banyak yang bertanya tentang kebenaran masalah ini.
“Ibu-ibu sekalian, sepertinya ini waktu yang tepat untuk saya menceritakan sesuatu yang membuat saya sadar kalau cinta saya ke Kikan lebih besar di banding apapun. Pria yang kemarin meninggal adalah ayahnya Kikan, kami tidak direstui untuk menikah, tetapi aku sudah mengandung Kikan saat itu. Heru mengidap AIDS, dan itu terbawa untuk Kikan, Kikan juga terserang AIDS, kami putus asa. Tidak ada yang menganggap Kikan di keluarga kami, sampai suatu saat ia tumbuh besar, dan sampai saat ini tak ada bayangan sedikitpun kelak apa yang akan terjadi jika Kikan....” air mata seolah menenggelamkan kata-kata Bu Lusi tadi sekaligus melenyapkan suasana seru menjadi sangat haru.
Keesokan harinya tak ada yang berubah, namun rasa penasaran Kikan menggerakkan kakinya menuju sebuah warnet dekat rumahnya. AIDS, itulah kata yang pertama di cari di situs google itu, jantungnya berdegub kencang, tangannya melemas, kakinya seolah sulit digerakkan, air mata ketakutan jatuh bercampur mimisan yang lagi lagi keluar. Kikan ketakutan setelah tau apa itu AIDS yang sebenarnya.
Kikan pulang ke rumah dengan wajah yang sangat pucat, dan di sambut oleh ibunya. Kikan melihat mata seorang ibu bagaikan mata seorang nenek sihir pembohong yang pernah ada.
“ma, apa aku akan mati?” tanya Kikan tiba-tiba
“ma, aku harap kali ini mama tidak membahas tentang malaikat kecil itu lagi. Aku merasa sangat tertipu” sambungnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Tubuh ibu yang tadinya kuat menjadi melemah, kakinya gemetaran, ibu bagaikan kehilangan oksigen untuk bernapas, dengan keberanian yang sangat dibuat-buat, ibu pun kembali bertanya.
“Kikan, apa kamu tau apa artinya mati?, apa ibu pernah ajarkan hah?”
“aku tahu?”
“apa?”
“aku tak bisa lagi melihatmu, aku tak bisa lagi memelukmu, aku tak bisa lagi bersamamu, aku tidak menjadi bagianmu lagi, itukan ma”
Air mata ibu pun mengalir deras seraya memeluk Kikan erat-erat. Wanita itu pun terjatuh kaku mengundang ambulans datang menjemput. Ibu pingsan.
Di rumah sakit Kikan senantiasa menjaga ibu ditemani dengan Bu Susi.
“Kikan....” ibu melihat sorot mata Kikan yang sangat ceria karna Ibunya berangsur pulih.
“Ma, mama gak usah khawatir. Aku sekarang sudah tidak takut lagi. Aku akan bahagia. Aku janji ma! Apapun yang terjadi aku akan tetap jadi bagian mu.”
Ibupun sangat tersanjung, pelukan hangat datang dari sang peri itu.
“nak, kamu pernah bertanya kan, mengapa semua orang menangis disaat ada yang meninggal?, itu karna mereka belum biasa dengan cobaan yang diberi tuhan, jika kita sudah biasa dengan cobaan dan tantangan maka akan mudah bagi kita untuk melewati semua rintangan itu tanpa harus menangis apalagi larut dalam kesedihan. Kikan, mama harap kamu jangan pernah memikirkan yang tidak-tidak, jalani saja hidup ini, mama janji suatu saat nanti, mama akan memakaikan kamu toga sarjana, dan akan menanti kamu melempar toga sarjanamu kelak”
Detik itu merupakan saksi harunya sebuah Ibu tunggal dan seorang anak penderita AIDS bersatu melawan arus yang menetapkan suatu kepastian yang sangat sulit untuk dibayangkan, tetapi semangat sang malaikat kecil tetap besar melebihi api yang membakar kayu.
Kini Kikan sudah berumur 12. Kikan salah satu murid berprestasi, ia memang dijauhi, tapi kata-kata ibuunda tercinta menelan semua kekeliruan orang-orang tentang penyakit AIDS ini.
Tak lebih setelah Kikan berumur 13 tahun. Bu Lusi duduk dengan sangat bersahaja, menelan semua gejolak yang ada. Menggenggam erat kotak yang telah Ibu persiapkan untuk Kikan si malaikat kecil yang ceria. Beliau mengeluarkan sebuah toga sarjana yang sangat indah, menaruh pelan di atasnya.
“anakku, sekarang ibu meletakkan toga sarjanamu untuk kau pakai, karna kau sudah lulus!, dan ibu akan menanti kamu melempar toga sarjamu sebagai tanda kelulusan abadimu dimanapun kamu berada nak.” Air mata bangga ibu mengalir.
24 Juli, Pemakaman Umum Terma Suci menjadi indah dengan nisan baru yang putih berbunga dengan toga sarjana di atas kuburnya. Selamat Jalan Kikan, 23 Juli 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar